Review Film Normal: Kota Paling Tenang dan Kekacauan Paling Gila

Cart Items 0

No products in the cart.

Pernah mendengar ungkapan bahwa tempat paling sunyi justru menyimpan rahasia paling mengerikan? Di sebuah kota kecil bersalju bernama Normal, Minnesota, ungkapan itu terbukti nyata. Namun, percayalah, this is not normal. Di balik penampilannya yang dingin dan damai, kota ini menyimpan misteri besar yang akan membuat bulu kuduk merinding sekaligus memicu tawa.

Rahasia Gelap di Balik Kota Sepi
Cerita film ini berpusat pada Ulysses Richardson (diperankan oleh Bob Odenkirk), seorang sheriff sementara yang baru saja pindah ke kota Normal. Ulysses hanyalah seorang pria paruh baya biasa yang sedang mencoba melarikan diri dari masa lalunya yang penuh masalah dan keretakan rumah tangga. Ia sengaja mengambil kontrak kerja singkat di kota terpencil ini dengan satu harapan sederhana: menjalani hari-hari yang tenang tanpa ada gangguan berarti.

Pada paruh pertama, film ini berjalan dengan tempo yang cukup lambat (slow paced). Sutradara Ben Wheatley meluangkan waktu untuk membangun atmosfer kota yang beku, memperkenalkan karakter-karakter unik di sana, serta memperlihatkan keseharian Ulysses yang tampak membosankan. Penonton diajak menikmati ketenangan kota kecil yang damai sebelum badai benar-benar datang.

Ketenangan tersebut langsung hancur berantakan ketika sebuah perampokan bank lokal yang kacau terjadi. Kejadian ini secara tidak sengaja menyingkap rahasia besar yang sangat kotor di dalam brankas bank. Begitu rahasia itu terbuka, lupakan semua ketenangan di paruh pertama. Alur cerita langsung bergeser drastis. Paruh kedua film ini langsung meledak dengan rentetan aksi tembak-tembakan masif, ledakan, dan kekacauan brutal tiada henti. Ulysses mendadak harus bertahan hidup di tengah kepungan bahaya dari arah yang sama sekali tidak diduga.

Ketika Sang “Nobody” Kembali Beraksi
Melihat Bob Odenkirk kembali memegang senjata di tengah badai salju tentu langsung mengingatkan saya pada penampilannya di film Nobody. Bagi pencinta aksi “bapak-bapak biasa” yang ternyata memiliki ketahanan fisik luar biasa, film ini akan memberikan kepuasan yang serupa. Namun, ada perbedaan besar yang membuat film ini terasa lebih membumi. Ulysses di sini bukanlah mesin pembunuh super yang tidak bisa disentuh. Ia adalah pria biasa yang bisa terluka, lelah, dan babak belur sepanjang film. Rasa sakit yang nyata ini justru membuat saya sebagai penonton semakin bersimpati dan tegang saat melihatnya berusaha bertahan hidup.

Selain adegan aksi yang intens, kekuatan utama film ini terletak pada humor gelapnya yang sangat segar. Humornya lumayan membuat saya tertawa lepas di dalam bioskop. Penulis skenario Derek Kolstad berhasil menyisipkan komedi di tengah situasi yang mencekam, terutama lewat tingkah laku warga kota yang absurd dan dialog sarkastik yang keluar dari mulut para karakternya. Kombinasi antara ketegangan dan kelucuan ini dikemas dengan porsi yang pas.

Beberapa Catatan di Tengah Badai Salju
Meski sangat menghibur, film ini tentu tidak luput dari beberapa catatan kritis Minvies. Salah satu yang paling terasa adalah penggunaan narasi suara latar (voiceover) dari Ulysses. Skenario film seolah kurang percaya bahwa penonton bisa memahami perasaan dan latar belakang Ulysses hanya lewat ekspresi wajah Odenkirk yang sebenarnya sudah sangat kuat. Hal ini membuat beberapa monolog terasa redundan dan terlalu menjelaskan situasi secara gamblang.

Selain itu, penulisan karakter di paruh kedua terasa agak tidak konsisten. Beberapa subplot dan karakter pendukung yang memicu kekacauan di awal justru menghilang begitu saja dari alur cerita tanpa kejelasan resolusi. Logika hukum juga agak dikesampingkan demi menjaga ritme laga tetap cepat, sehingga konklusi film ini terasa sedikit terlalu mudah diselesaikan, mirip seperti sebuah kartun kekerasan yang tidak realistis.

Terlepas dari beberapa kekurangan naskahnya, film berdurasi 91 menit ini tetap menjadi salah satu pilihan tontonan yang sangat menyenangkan. Tempo film yang beralih cepat di paruh kedua tidak akan membiarkan penonton merasa bosan. Atmosfer kota bersalju yang dingin dipadukan dengan ketegangan yang konstan membuat pengalaman menonton di layar lebar terasa sangat maksimal.

Bagi yang menyukai film laga dengan misteri yang tidak biasa serta humor segar yang berhasil memicu tawa, Normal sangat layak untuk segera masuk ke daftar tontonan bioskop minggu ini. Bersiaplah untuk menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar normal di kota ini!

Rate: 3/5
Review by: Raihan Khairunnisa (@Runnilune)

Leave a Reply

cropped-cropped-GAC-MEDIA-LOGO.png

Gac-Media.com Media komunitas adalah platform media yang dimiliki, dikelola, dan diproduksi oleh anggota komunitas lokal untuk memenuhi kebutuhan informasi, ekspresi, dan partisipasi mereka.

Cinere Resort Apartemen, Depok Jawa Barat, 16512

© 2025 Gac-Media.com - Platform Media Komunitas.