Review Film Hokum: Duka Mengerikan di Hotel Tua yang Sunyi

Cart Items 0

No products in the cart.

Membayangkan harus menginap di sebuah hotel terpencil di pelosok Irlandia hanya untuk menyebarkan abu jenazah orang tua terdengar seperti awal dari sebuah drama melankolis. Namun, bagi Ohm Bauman (Adam Scott), perjalanan ini dengan cepat bergeser menjadi mimpi buruk yang janggal.

Begitu tiba di The Bilberry Woods Hotel, ia mendapati dirinya menjadi satu-satunya tamu di sana. Sambutan pertamanya bahkan berupa seekor kambing mati di area parkir yang terpaksa ditembak oleh staf karena kambing disana memiliki obsesi aneh, yaitu suka memanjat kap mobil hanya untuk menatap refleksinya sendiri pada cat kendaraan.

Dari titik pembuka yang absurd ini, Hokum (2026) mulai merajut misterinya yang kelam. Ohm, seorang penulis novel horor sukses yang sinis, dingin, dan alkoholik, segera terseret dalam kepanikan lokal ketika Fiona (Florence Ordesh), barista hotel yang sempat bersikap hangat kepadanya, tiba-tiba menghilang secara misterius. Demi mencari tahu apa yang terjadi, Ohm terpaksa bekerja sama dengan Jerry (David Wilmot), seorang eksentrik yang hobi menenggak ramuan jamur halusinogen. Penyelidikan mereka mengarah pada satu-satunya tempat paling mencurigakan di hotel tersebut, yaitu kamar pengantin (honeymoon suite) yang selama ini digembok rapat karena konon dihuni oleh sosok penyihir kuno berusia 400 tahun.

Sebelum melangkah lebih jauh, Minvies termasuk orang yang percaya bahwa trailer film horor zaman sekarang sering kali merusak sensasi seru dari film itu sendiri. Terlalu banyak bocoran adegan penting atau jumpscare krusial yang sudah dipamerkan sejak awal demi menarik penonton. Karena itu, Hokum adalah tipe film yang Minvies sarankan untuk ditonton secara blind watch, yaitu masuk ke bioskop tanpa ekspektasi, tanpa menonton trailernya terlebih dahulu, dan membiarkan atmosfernya yang ganjil menyelimuti pikiran kita secara perlahan.

Otak di balik teror psikologis ini adalah sutradara Damian McCarthy. Bagi yang sudah akrab dengan karya-karyanya terdahulu seperti Caveat (2020) atau Oddity (2024), gaya penyutradaraan McCarthy di sini akan terasa cukup familier. Ia tergolong sutradara yang lihai dalam membangun unsettling horror, sejenis horor ganjil yang membuat penonton merasa tidak nyaman secara konstan sejak menit pertama.

Dan jika bicara soal rasa tidak nyaman ini, kita harus membahas kelinci. Entah kenapa McCarthy memang sangat identik dengan hewan ini, yang kabarnya berakar dari ketakutan masa kecilnya saat menonton film animasi Watership Down. Di film Caveat, ia sukses membuat penonton trauma lewat mainan kelinci penabuh drum yang mengerikan. Di Hokum, ia kembali menggunakan motif kelinci ini dengan cara yang sangat ganjil, mulai dari karakter berkostum kelinci di pesta Halloween hingga penampakan aneh bertelinga kelinci di layar televisi tua yang statis. Transformasi hewan yang biasanya menggemaskan menjadi simbol takhayul yang meneror psikologis ini disajikan dengan efektif.

Sama seperti film-film terdahulunya yang gemar mengisolasi karakter di ruang sempit, di Hokum ia kembali mengurung penonton dalam koridor hotel tua yang gelap, berderit, dan terasa sangat claustrophobic. Menariknya, saya sangat menikmati perspektif dan sinematografi horor di sini. Sudut pandang kamera (POV) yang sering kali menempel pada pergerakan Ohm memaksa penonton ikut meraba-raba kegelapan, menciptakan ketakutan psikologis yang intens.

Apakah film ini sempurna? Jelas tidak. Di babak kedua, ritme ceritanya terasa agak keteteran dan alurnya melompat-lompat secara janggal. Bagi pencinta horor veteran, beberapa formula jumpscare dan adegan klisenya mungkin akan terasa mudah ditebak.

Namun, film ini tetap bekerja dengan sangat efektif. McCarthy cukup paham cara memanipulasi antisipasi penonton. Rasa takut yang dihadirkan bukan sekadar karena ada sesuatu yang mendadak melompat keluar, melainkan dari rasa cemas yang terus-menerus diulur karena kita tahu ada bahaya yang sedang mengintai di balik kegelapan, hanya saja kita tidak tahu kapan bahaya itu akan muncul.

Didukung oleh penampilan solid dari Adam Scott yang berhasil membawakan karakter utama yang menyebalkan namun rapuh, Hokum adalah sebuah perjalanan kelam tentang duka dan rasa bersalah yang dibungkus dalam estetika gothic folk-horror yang solid. Cukup matikan lampu, singkirkan semua ekspektasi, dan bersiaplah dibuat tidak nyaman sepanjang film.

Review by Raihan Khairunnisa (@Runnilune)

Rate: 4/5

Leave a Reply

cropped-cropped-GAC-MEDIA-LOGO.png

Gac-Media.com Media komunitas adalah platform media yang dimiliki, dikelola, dan diproduksi oleh anggota komunitas lokal untuk memenuhi kebutuhan informasi, ekspresi, dan partisipasi mereka.

Cinere Resort Apartemen, Depok Jawa Barat, 16512

© 2025 Gac-Media.com - Platform Media Komunitas.