Ada banyak film aksi yang menjual pukulan keras, tendangan mematikan, dan koreografi pertarungan spektakuler. Namun, hanya sedikit yang mampu membuat penonton benar-benar peduli terhadap alasan di balik setiap pukulan yang dilayangkan. The Furious mencoba melakukan keduanya. Di balik rentetan aksi yang brutal dan intens, film ini menghadirkan kisah tentang seorang ayah yang rela menembus batas kemanusiaan demi menyelamatkan orang yang paling ia cintai.
Perjalanan Putus Asa Melawan Jaringan Kejahatan
Cerita film ini berpusat pada seorang pekerja tukang yang hidupnya hancur ketika putrinya diculik oleh sebuah organisasi perdagangan manusia yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara. Dalam usahanya mencari sang anak, ia bekerja sama dengan seorang jurnalis yang juga sedang menyelidiki jaringan penculikan tersebut. Dari sinilah keduanya terseret ke dalam konspirasi yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang mereka bayangkan. Secara naratif, The Furious memiliki fondasi cerita yang cukup kuat. Premisnya sederhana, tetapi efektif dalam menjaga roda cerita terus bergerak
Motivasi para karakter utama terasa jelas sehingga penonton selalu memiliki alasan untuk mengikuti perjalanan mereka hingga akhir. Film ini juga berhasil menjaga ketegangan melalui berbagai rintangan yang muncul selama proses pencarian. Meski demikian, ada beberapa keputusan kreatif yang sempat membuat saya mempertanyakan logikanya. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa utama percakapan. Dalam banyak adegan, karakter-karakter yang berasal dari negara yang sama justru berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Tentu hal ini terasa sedikit janggal, terutama ketika organisasi kriminal maupun aparat penegak hukum yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara berbicara seolah semuanya berasal dari latar budaya yang berbeda.
Ketika Para Master Bela Diri Berkumpul
Untungnya, jika ada satu hal yang benar-benar menjadi daya tarik utama film ini, jawabannya adalah aksi. Dengan kehadiran Xie Miao, Joe Taslim, Yayan Ruhian, serta koreografer laga Kenji Tanigaki di belakang layar, kualitas adegan pertarungan sebenarnya sudah hampir tidak perlu dipertanyakan lagi. Nama-nama tersebut memiliki rekam jejak panjang dalam perfilman aksi Asia, dan pengalaman mereka terasa jelas di setiap pertarungan yang ditampilkan. Yang paling mengejutkan: betapa kreatifnya koreografi film ini. Beberapa teknik dan kombinasi gerakan terasa sangat segar, bahkan seperti sesuatu yang belum pernah ada dalam film aksi lain sebelumnya.
Ada momen-momen tertentu yang membuat saya benar-benar terkesima karena tidak menyangka gerakan seperti itu bisa diterapkan secara efektif di layar lebar. Intensitas pertarungannya juga terasa lebih nyata karena sebagian besar aksi dilakukan langsung oleh para aktornya. Dalam acara pemutaran perdana, Joe Taslim bahkan mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen adegan laga dikerjakan sendiri oleh para pemain, sementara stuntman hanya digunakan untuk adegan yang benar-benar berbahaya. Hasilnya terasa di layar. Penonton dapat melihat wajah para aktor dengan jelas selama pertarungan berlangsung, sehingga setiap pukulan dan tendangan terasa lebih personal dan imersif.
Di tengah dominasi film aksi modern yang sering bergantung pada efek visual dan penyuntingan cepat, pendekatan seperti ini terasa menyegarkan. Tradisi sinema aksi Asia yang menempatkan kemampuan fisik aktor sebagai pusat pertunjukan masih terasa hidup dan menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Film ini bukan tanpa kekurangan: salah satu aspek yang cukup mengganggu adalah penyuntingan gambar. Pada beberapa bagian, perpindahan antar adegan terasa terlalu mendadak dan kasar. Ada pula beberapa potongan gambar yang muncul begitu cepat hingga terasa seperti kesalahan teknis atau gangguan visual. Untungnya, di beberapa momen lain, transisi antar adegan justru bekerja dengan sangat baik dan membantu menjaga ritme cerita tetap dinamis.
Lebih dari Sekadar Adu Pukul
Di balik semua tendangan, darah, dan tulang yang patah, The Furious sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana: manusia yang berjuang demi manusia lain. Film ini menyoroti bagaimana seseorang dapat melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil ketika orang yang mereka cintai berada dalam bahaya. Di saat yang sama, film ini juga memperlihatkan sisi gelap manusia melalui eksploitasi, keserakahan, dan perdagangan sesama manusia yang menjadi inti konfliknya.
The Furious adalah tontonan yang sangat memuaskan bagi pencinta film laga. Ceritanya cukup kuat untuk menjaga perhatian penonton, sementara adegan aksinya tampil spektakuler dari awal hingga akhir. Jika Anda datang untuk melihat Xie Miao, Joe Taslim, dan Yayan Ruhian beraksi, film ini jelas tidak akan mengecewakan. Film ini tahu persis apa yang ingin ditawarkan dan berhasil menyajikannya dengan sangat baik.
Rate: 4/5
Review by: @adammartahadi