Review Film Backrooms: Ruang Kosong Menjadi Mimpi Buruk Tak Berujung

Cart Items 0

No products in the cart.

Pernah melihat foto lorong kuning yang tampak biasa saja, tetapi entah mengapa terasa mengganggu? Dari gambar sederhana yang sempat beredar di internet itulah fenomena Backrooms lahir. Awalnya hanya sebuah foto anonim yang kemudian berkembang menjadi creepypasta populer, sebelum akhirnya diinterpretasikan ulang oleh Kane Parsons melalui serial video YouTube yang viral. Kini, setelah mengembangkan proyek ini sejak usia 16 tahun bersama A24, Parsons akhirnya menghadirkan Backrooms ke layar lebar pada usia 20 tahun. Backrooms tak punya kanon tunggal. Tak ada versi yang benar atau salah. Sebab itu, visi personal Kane Parsons terhadap konsep liminal space yang selama ini menghantui internet diwujudkan dengan baik.

 

Tersesat di Dunia yang Tak Peduli tentang Penjelasan

Yang Minvies sukai dari Backrooms adalah keberaniannya untuk tidak menjelaskan segalanya kepada penonton. Ketika banyak film sibuk menjelaskan setiap detail melalui dialog dan eksposisi, film ini memilih pendekatan yang lebih sunyi. Pembangunan dunianya berjalan lambat dan mungkin tak cocok untuk semua orang. Alih-alih terus-menerus memberi jawaban, film ini membiarkan penonton mengikuti perjalanan para karakternya secara langsung. Kita diajak merasakan kebingungan, ketakutan, dan rasa tersesat yang sama tanpa perlu selalu diberi penjelasan mengenai apa yang sedang terjadi. Hasilnya terasa sangat natural.

 

Ketika Ruang Kosong Menjadi Karakter Utama

Aspek yang paling mengesankan dari film ini adalah desain produksinya. Jika melihat proses di balik layar, akan terlihat betapa besar set yang dibangun khusus untuk film ini. Lorong-lorong, ruangan kosong, hingga area-area absurd yang menjadi ciri khas Backrooms sebagian besar benar-benar dibangun secara praktikal di sound stage. Fakta bahwa film ini lebih banyak mengandalkan set fisik dibandingkan CGI membuat pengalaman menontonnya terasa jauh lebih nyata dan meyakinkan. Atmosfer tersebut semakin diperkuat oleh musik yang dikompos oleh sang sutradara sendiri, Kane Parsons, bersama Edo Van Breemen. Skornya bikin rasa tak nyaman merayap.

 

Begitu pula dengan tata cahaya dan color grading-nya. Adegan di luar Backrooms dipenuhi warna-warna yang cerah, hidup, dan terasa hampir terlalu jenuh. Namun ketika karakter memasuki Backrooms, seluruh palet warna berubah drastis menjadi pucat, kusam, dan melelahkan untuk dilihat. Kontras ini menjadi cara yang sangat efektif untuk membedakan dua dunia yang terasa seperti berasal dari realitas yang berbeda. Film ini juga mempertahankan elemen found footage yang menjadi fondasi popularitas versi YouTube-nya. Pendekatan tersebut membuat banyak momen terasa jauh lebih intim dan menyeramkan. Bahkan sejak adegan pembuka, film ini sudah berhasil membangun ketegangan yang membuat dada terasa sesak.

 

Penampilan Para Aktor di Tengah Kekosongan

Di balik lorong-lorong tak berujung dan berbagai misteri yang mengelilinginya, film ini tetap membutuhkan aktor yang mampu membuat penonton peduli terhadap nasib para karakternya. Untungnya, sebagian besar pemain berhasil menjalankan tugas tersebut dengan baik. Chiwetel Ejiofor menjadi sorotan utama bagi saya. Performanya sangat kuat dan meyakinkan. Sulit mengingat bahwa ia berasal dari Inggris karena sepanjang film ia benar-benar menyatu dengan karakter Amerika-nya serta kondisi psikologis yang sedang dialami. Tak banyak catatan yang bisa diberikan selain pujian.

 

Di Balik Monster Misterius dan Lorong Kuning

Backrooms bukan sekadar film tentang monster atau ruang misterius yang tidak memiliki jalan keluar. Film ini adalah eksplorasi rasa asing, kesepian, dan ketakutan terhadap ruang yang seharusnya terasa familiar tetapi justru terasa salah. Kane Parsons memahami bahwa hal paling menyeramkan dari Backrooms bukanlah makhluk yang bersembunyi di balik sudut lorong, melainkan perasaan tersesat di tempat yang tidak memiliki makna, tujuan, maupun akhir.

Bagi sebagian penonton, ritmenya yang lambat mungkin terasa menantang. Namun bagi mereka yang menyukai horor atmosferik dan konsep liminal space yang benar-benar dieksplorasi dengan serius, Backrooms menawarkan pengalaman yang unik dan sulit ditemukan di film horor modern lainnya. Sebagai adaptasi dari fenomena internet yang sempat dianggap mustahil untuk diterjemahkan ke layar lebar, Backrooms berhasil membuktikan bahwa terkadang ketakutan terbesar datang dari ruang kosong yang tampak biasa saja.

 

Rate: 4/5

Review by @adammartahadi

Leave a Reply

cropped-cropped-GAC-MEDIA-LOGO.png

Gac-Media.com Media komunitas adalah platform media yang dimiliki, dikelola, dan diproduksi oleh anggota komunitas lokal untuk memenuhi kebutuhan informasi, ekspresi, dan partisipasi mereka.

Cinere Resort Apartemen, Depok Jawa Barat, 16512

© 2025 Gac-Media.com - Platform Media Komunitas.