
Yogyakarta, 1 Januari 2026 — Swara Prambanan 2025 menghadirkan perayaan malam pergantian tahun yang berbeda dan penuh makna di kawasan ikonik Candi Prambanan, Yogyakarta. Tanpa dentuman kembang api, festival musik dan budaya ini justru menutup tahun dengan doa bersama, refleksi, dan keheningan yang menyentuh hati.
Di bawah langit Prambanan yang tenang, ribuan pengunjung diajak memaknai pergantian tahun bukan sekadar sebagai pesta, tetapi sebagai momen untuk menunduk, merenung, dan memperkuat rasa kemanusiaan. Keputusan untuk meniadakan kembang api menjadi bentuk empati Swara Prambanan terhadap masyarakat di berbagai wilayah Indonesia yang tengah menghadapi bencana.
Malam pergantian tahun dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh lima pemuka agama, menjadi simbol persatuan lintas iman. Doa-doa tersebut dipanjatkan sebagai harapan akan keselamatan, ketabahan, dan pemulihan bagi mereka yang sedang berada dalam situasi sulit. Dengan latar siluet megah Candi Prambanan, momen ini menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan dapat berpadu dalam satu tujuan yang sama: kemanusiaan.
CEO GOLDLive Indonesia, Faqih Mulyawan, menyampaikan bahwa Swara Prambanan dirancang sebagai ruang berbagi kepedulian. Musik dan budaya dihadirkan sebagai medium untuk saling menguatkan, khususnya di momen akhir tahun yang sarat makna.
Menjelang tengah malam, suasana semakin hangat dengan penampilan Sendratari Cendhik Art Dance yang membawakan kisah legendaris Roro Jonggrang. Nuansa budaya semakin kuat sebelum panggung dilanjutkan oleh Denny Caknan, yang mengajak penonton bernyanyi bersama dalam suasana akrab dan penuh kebersamaan.
Malam puncak terasa semakin emosional ketika Padi Reborn tampil. Menjelang pergantian tahun, seluruh penampil mengajak penonton menyalakan flashlight ponsel secara serentak. Lautan cahaya pun tercipta, menggantikan gemerlap kembang api dengan suasana hening yang sarat makna.
Vokalis Padi Reborn, Fadly, mengungkapkan harapannya agar Indonesia segera pulih dan dijauhkan dari marabahaya melalui doa dan suara yang sederhana namun tulus.

Sesaat sebelum tahun berganti, sesi hening kembali dilakukan. Penonton diajak berhenti sejenak dari sorak dan musik, memberi ruang untuk refleksi atas perjalanan satu tahun ke belakang. Swara Prambanan 2025 pun ditutup dengan rasa syukur, kesadaran diri, dan harapan akan langkah yang lebih baik di tahun mendatang.
Tanpa kembang api, Swara Prambanan 2025 membuktikan bahwa perayaan akhir tahun tidak selalu harus gemerlap. Terkadang, doa, keheningan, dan kepedulian justru menjadi cara paling tulus untuk menyambut tahun baru.
Swara Prambanan merupakan festival musik tahunan yang digelar setiap 31 Desember di Candi Prambanan, memadukan musik, seni, dan budaya untuk menghadirkan pengalaman akhir tahun yang berkesan bagi keluarga. Festival ini juga menghadirkan Pasar Medang sebagai ruang kuliner dan produk kreatif berbasis budaya, serta DolanRia Prambanan yang berlangsung pada 25–31 Desember 2025 dengan beragam aktivitas rekreasi dan interaksi budaya.